Kamis, 01 November 2007

Beranjak dari Kesadaran

Mendung sudah tak tahan lagi meneteskan airnya di awal November. Sapi-sapi telah disiapkan untuk membajak di hamparan sawah yang sudah dipenuhi air. Apakah sudah ada tanda memasuki musim penghujan.

Petani bilang sudah saatnya untuk bahu-membahu mencairkan hamparan tanah lempung itu menjadi empuk dan ditancapi tanaman padi. Jika Tuhan tibat-tiba berkehendal lain menghapus mendung dengan sengatan panas, mungkin saja cita-cita untuk segera memiliki hamparan padi yang menghijau itu kandas.

Peralihan musim sudah sangat sulit untuk dipecahkan tanda-tandanya oleh pentani. Berangkat dari itu mereka memiliki kesadaran baru, menggunakan petanda hujan pertama yang deras akan diikuti hujan kecil yang menyirami sawahnya.

Kamis, 25 Oktober 2007

Ritual Teratai

Tak kurang 300 perawan mengenakan pakaian kebaya satu persatu menapaki pematang sawah. Mereka menari dan bernyanyi mengiringi langkah menuju panggung pementasan. Kecantikan dan keceriaan wajahnya mengisyaratkan keanggunanan sebagai wanita jawa.
Sebelum sampai di panggung terdengar suara hentakan terbang dan jidor. Mereka berbaris membentuk setengah lingkaran. Bunga mawar sebagai simbul kepahlawanan dipegang dengan tangan kanan dan diletakkanya di dada kiri. Syair-syair tentang kepahlawanan dan kehidupan didendangkan dalam ‘’Ruwat Teratai’’ di halaman SMK YP 17 Kota Magelang, kemarin.
Begitulah cara para siswa di sekolah itu memperingati hari sumpah pemuda. Kalau biasanya digelar dengan upacara atau acara formal lainnya, kali ini dikemas dalam acara ruwatan dan pagelaran seni budaya.
Suasana tetap saja syakral, bahkan Widodo kepala sekolahnya sempat meneteskan air mata ketika ikut membacakan puisi. Pria yang lahir 1940 itu seakan teringat pada pengorbanan para pahlawan pada masa itu. Kumisnya yang mulai memutih, menjadi saksi betapa mulianya para pejuang mengorbankan jiwa raganya demi kemerdekaan.
‘’Bagi kami yang penting adalah esensi dari peringatannya bukan kemeriahan upacaranya. Dengan dikemas pegelaran seni budaya ini tujuannya akan lebih mudah dipahami para kawulamuda,’’katanya.
Usai pembacaan puisi, kolaborasi musik perkusi yang dibawakan oleh 100 perawan. Sebagian memainkan musik terbang dan yang lainnya memukul peralatan dapur, seperti wajan dan piring. Dari ketukan lamban mengalir ke tempo tercepat menjadikan harmoni musik semakin apik dan unik.
Dilanjutkan dengan aksi teaterikal, menggambarkan kegigihan para pahlawan berjuang di medan perang. Seorang pemain laki-laki menggeliat dibawah tegakan tongkat yang dibuat menyerupai tempat semedi. Beberapa perempuan mengelilinginya sambil mengibarkan bendera. Mereka terus memutar searah dengan jarum jam. Sampai pada akhirnya bunga berjatuhan diantara mereka. Menandakan pahlawan itu telah gugur, tapi bahu harumnya tetap semerbak hingga kini.
‘’Mungkin saat ini banyak kawulamuda yang telah melupakan semangat perjuangan pemuda zaman revolusi. Dengan adanya acara pegelaran ini minimal bisa mengingatkan kembali jasa mereka,’’kata Gepeng Nugroho, ketua panitia.
Menurutnya, yang paling penting adalah bagaimana generasi muda sekarang ini mengisi kemerdekaan dengan berbagai kegiatan yang arif tak terperosok dalam pergaulan yang menyesatkan. Berbagai kasus narkoba sebagian besar melibatkan pemuda.
‘’Bagaiamana nasib negara mendatang jika demikian. Setidaknya pemuda harus mulai berfikir memanfaatkan kekayaan alam untuk kesejahteraan semua rakyatnya seperti cita-cita para pahlawan,’’katanya
.